BALIKPAPAN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak pada kesehatan warga Balikpapan, Kalimantan Timur. Paparan polusi udara ini perlu diwaspadai, terutama karena dapat mengganggu sistem pernapasan anak-anak.
Salah satu warga Balikpapan Utara bernama Michael mengatakan anaknya yang berusia 18 bulan mengalami masalah kesehatan yang diduga berkaitan dengan paparan asap karhutla. Sang anak didiagnosis mengalami pneumonia.
Michael menceritakan gejala awal berupa batuk dan sesak napas mulai muncul pada Kamis (8/10/2026) malam. Keesokan harinya, Jumat (9/10/2026), Michael membawa anaknya ke Rumah Sakit Siloam untuk menjalani pemeriksaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan hasil rontgen, ditemukan infiltrat pada zona atas paru-paru kiri dengan kesan diagnosis pneumonia.
“Malamnya itu sesak napas dan tidurnya pun terganggu, kemudian besok harinya saya bawa berobat dan dianjurkan x-ray. Hasilnya ditemukan infiltrat pada zona atas paru-paru kiri yang didiagnosis pneumonia,” ujar Michael.
Dokter: Asap Jadi Salah Satu Pemicu
Dokter menjelaskan bahwa kabut asap menjadi salah satu aspek pemicu pneumonia yang dialami anaknya. Michael pun mengaku terkejut dengan hasil pemeriksaan tersebut, sebab sang anak jarang melakukan aktivitas di luar rumah.
“Dari situ kita mendapatkan info bahwa penyakit ini dipengaruhi karena adanya asap yang juga semakin tebal. Apalagi sekarang kualitas udara di Balikpapan masuk dalam kategori tidak sehat untuk warganya,” ungkap Michael.
“Sebelum sesak napas itu kita tidak ada melakukan aktivitas keluar rumah, palingan hanya bermain di halaman rumah saja. Tiba-tiba malamnya sudah batuk-batuk dan juga mengalami sesak napas,” lanjutnya.
Orang Tua Diimbau Waspada
Kasus ini menjadi pengingat bagi para orang tua di Balikpapan dan wilayah terdampak kabut asap lainnya untuk meningkatkan kewaspadaan. Anak-anak, terutama balita, termasuk kelompok yang paling rentan terhadap dampak polusi udara akibat karhutla.
Orang tua disarankan membatasi aktivitas anak di luar ruangan selama kualitas udara buruk, memastikan anak memakai masker saat harus keluar rumah, serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau demam yang tidak kunjung reda.
Sumber Berita: haibunda.com, detikcom










