BALIKPAPAN, Dinkes Kota Balikpapan mencatat 3.600 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama Oktober 2026. Petugas menghimpun angka ISPA Balikpapan Oktober 2026 dari data puskesmas seluruh wilayah kota. Walau angka itu belum melonjak, Alwiati meminta masyarakat tetap waspada, khususnya ketika kualitas udara memburuk.
Kepala Dinkes Kota Balikpapan Alwiati menyampaikan angka tersebut seusai menghadiri peringatan Hari Dokter Indonesia ke-76 pada Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC/Dome), Minggu (25/10/2026). Ia menyebut kondisi kasus ISPA pada Oktober belum menunjukkan lonjakan yang signifikan. Karena itu, otoritas kesehatan berharap kondisi ini membaik seiring membaiknya kualitas udara Balikpapan.
ISPA Balikpapan Oktober 2026 Belum Melonjak
Alwiati menjelaskan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Balikpapan saat ini mulai menurun. Namun posisinya masih berada dalam kategori sedang. Ia berharap penurunan ISPU itu berlangsung agar jumlah kasus ISPA tengah masyarakat ikut berkurang. Penurunan ISPU akan menekan risiko gangguan pernapasan bagi warga yang banyak beraktivitas luar rumah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Alwiati, kesadaran masyarakat mengikuti imbauan pemerintah ikut membantu mengendalikan risiko gangguan pernapasan selama kualitas udara memburuk. Ia mengapresiasi warga yang mengurangi aktivitas luar rumah ketika udara tidak bersahabat. Langkah sederhana itu penting untuk membatasi paparan polusi bagi kelompok yang rentan mengalami gangguan pernapasan.
Kasus Januari hingga September Mencapai Sekitar 91 Ribu
Otoritas kesehatan menilai kasus Oktober belum melonjak, tetapi tetap memberi perhatian besar pada ISPA sebagai satu masalah kesehatan penting Balikpapan. Petugas mencatat jumlah kasus ISPA sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai sekitar 91 ribu kasus. Angka tersebut menunjukkan gangguan saluran pernapasan sudah membebani kesehatan masyarakat jauh sebelum Oktober, sehingga kewaspadaan harus berlanjut melampaui satu bulan saja.
Fasilitas pelayanan kesehatan mencatat berbagai penyebab gangguan pernapasan itu. Total kasus ISPA mencakup hitungan kumulatif semua penyebab tersebut. Angka itu bukan berarti asap kebakaran hutan dan lahan menyebabkan seluruh kasus. Infeksi virus dan bakteri, debu, serta paparan polusi udara lain juga memicu ISPA. Karena itu, baca angka bulanan secara hati-hati dan jangan menyimpulkan seluruh kasus berasal dari satu penyebab saja.
Warga Perlu Batasi Aktivitas Luar dan Pakai Masker
Otoritas kesehatan mengimbau masyarakat membatasi aktivitas luar rumah saat kualitas udara memburuk. Warga yang beraktivitas luar ruangan perlu memakai masker untuk mengurangi paparan partikel pencemar. Selain itu, Alwiati meminta masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menjaga kebersihan lingkungan dan memperhatikan kondisi tubuh.
Orang tua dan keluarga perlu melindungi kelompok rentan, khususnya anak-anak dan lanjut usia. Kedua kelompok ini lebih mudah mengalami gangguan pernapasan saat menghirup udara buruk dalam waktu lama. Karena itu, Alwiati meminta orang tua memastikan anak-anak memakai masker saat beraktivitas luar rumah. Keluarga juga perlu memperhatikan kondisi lansia yang tinggal serumah. Dengan kewaspadaan bersama, otoritas kesehatan berharap kasus ISPA Balikpapan Oktober 2026 tidak melonjak pada bulan berikutnya.
Sumber Berita: Kotaku










